ads here

Cari Referensi: Mengurai Jerami dengan Mikroba Efektif (EM) dan Pengaruhnya Pada Kualitas Kompos

advertise here


Abstrak. Studi ini bertujuan untuk mengukur ekef penambahan mikroba efektif (EM) pada proses kompos dengan capuran kotoran kambing dan sampah organic serta untuk mengevaluasi kedua kualitas pada kedua perlakuan kompos. Terdapat dua perlakuan tumpukan pada studi ini, tumpukan pertama diberikan EM dan tumpukan lainnya tanpa pemberian EM. Setiap perlakuan kemudian diulangi tiga kali dalam durasi pengomposan 90 hari. Parameter suhu, pH, TOC dan rasio C/N menunjukkan bahwa dekomposisi bahan organic terjadi dalam periode 90 hari. Uji t yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikansi antara proses kompos dengan adanya EM dan tidak menggunakan EM. Penggunaan EM pada pengomposan meningkantkan makro dan mikronutrisi. Parameter berikut mendukung simpulan: kompos dengan EM mengandung lebih banyak N, P, dan K (P < 0,05) bila dibandingkan dengan kompos tanpa EM. Meskipun kandungan besi (Fe) pada kompos dengan EM lebih tinggi (P < 0,05) daripada kompos tanpa EM, untuk kandungan Zn dan Cu tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Studi ini menyarankan penggunaan EM mampu meningkatkan mineralisasi pada proses pengomposan. Hasil akhir pengomposan mengindikasikan pematangan yang baik dan dapat digunakan tanpa batasan apapun. 


Resume:

Penelitian ini menggunakan jerami sebagai bahan utama yang kemudian direndam dengan air selama 24 jam. Kemudian, jerami tersebut dicampurkan dengan kotoran kambing dan sampah organic (sayuran dan sisa buah-buahan dari pasar). Komposisi campuran yang digunakan sebesar 50% jerami, 30% kotoran kambing dan 20% sampah organic. EM yang digunakan berjenis EMAS yakni EM yang teraktivasi dalam suspense campuran molase dan air non-klorin atau air sisa rendaman beras. Air ditambahkan hingga komposisi campuran sekitar 60%, untuk mempertahankan komposisi tersebut maka digunakan bungkusan plastik. Kadar kelembapan dipertaahankan sekitar 50% - 60% dengan penambahan air. Observasi dilakukan pada hari 0, 15, 30, 45, 60 dan 90 dengan mengukur perubahan fisik dan komposisi kimiawi. Sampel diambil kemudian dibagi menjadi 2 dengan satu bagian akan dikeringkan hingga beratnya konstan (60oC selama 2 hari) untuk analisis kimiawi. Sedangkan bagian lainnya akan dianalisis kadar pH dan total karbonnya. 

Data suhu menunjukkan hampir seimbangnya suhu kedua variabel hingga hari ke-20an menjelang 30. Selanjutnya suhu pada variabel dengan penggunaan EM cenderung lebih rendah daripada komposter tanpa EM. pH minimum yang diukur sekitar 6,25 untuk variabel EM dan 6,41 pada variabel lainnya yang kemudian meningkat pada hari kedua masing-masing 6,85 dan 6,98.  
Menurut data, nilai pH meningkat pada pekan pertama dan menurun pada periode selanjutnya yang mencapai puncaknya pada level 8,16 pada hari ke-15 variabel EM dan 7,90 pada hari ke-30 variabel tanpa EM. pH kemudian menurun dan relatif stabil pada level 7,55 pada variabel EM dan 7,62 pada variabel tanpa EM pada hari ke-90. 

Level TOC (kadar karbon) sedikit menurun bagi kedua variabel. Pada pengukuran awal, variabel EM sebesar 48,6% dan non-EM sebesar 47,6% dan cenderung sama hingga hari ke-15 bagi kedua variabel. Level tersebut menurun drastic setelah hari ke-30 pada variabel EM dan cenderung tetap pada variabel non-EM. 

Salahsatu parameter yang selalu digunakan dalam penelitian terkait kompos yakni rasio C dan N dimana rasio tersebut dapat memberitahu kita terkait kematangan kompos. Rasio C/N awal sebesar 32,4 pada variabel EM dan 34,0 pada variabel non-EM dan kadar akhir sebesar 10,3 untuk variabel EM dan 16,1 pada variabel non-EM. Peneliti menambahkan menurut Tumuhairwe, dkk bahwa rasio C/n dibawah 20 menandakan kematangan kompos. 

Nutrisi N dan K cenderung mengalami penaikan sementara P cenderung menurun. Kandungan Nitrogen akhir sebesar 2,4% pada EM dan 1,8% pada non-EM (awalnya 1,5%;1,4%). Kadar fosfat (P) cenderung mengalami penurunan dengan total akhir 0,22% bagi variabel EM dan 0,17% pada non-EM (awal 0,23%;0,21%). Kadar kalium (K) mengalami kenaikan dengan nilai akhir sebesar 1,7% bagi variabel EM yang mengalami puncaknya sebesar 2% pada hari ke-45 dan 1,4% bagi variabel non-EM (awal 1,1%;1,2%). 

Kandungan logam berat (mikronutrisi) menunjukkan trend kenaikan pada kedua variabel kecuali bagi tembaga (Cu) yang mengalami penurunan. Nilai akhir Zn sebesar 207;180 mg kg-1 (awal 203;170 mg kg-1). Kandungan Cu sebesar 62;54 mg kg-1 (awal 110;107 mg kg-1). Peningkatan besi (Fe) terlihat dengan nilai akhir 2624;2379 mg kg-1 (awal 560;650 mg kg-1). 

Peningkatan suhu disebabkan oleh kalor yang timbul dari proses respirasi mikroba yang mengurai gula, pati dan protein. Kandungan karbon berkurang sebab karbon merupakan sumber energi bagi mikroorganisme untuk membangun selnya, dimana hampir seluruh C diserap oleh mikroorganisme untuk dimanfaatkan menjadi protoplasma sel dan beberapa diubah menjadi CO2 dalam metabolisme seluler. Kadar nitrogen dapat berkurang akibat menurunnya kadar C saat proses pengomposan, sebagai tambahan bahwa N meningkat juga dengan adanya aktivitas fiksasi N oleh bakteri yang umumnya terjadi diakhir tahap pengomposan. Berkurangnya kadar P disebabkan oleh terbilasnya (leaching) fosfat pada pelarut organik. Penggunaan jerami sebagai medium yang menyerap kelembapan dan mempertahankan integritas strukturalnya memungkinkan menahan kehilangan K pada kompos. Peningkatan Zn dan Fe disebabkan oleh akumulasi yang terjadi sebagai pertanda matangnya kompos yang dihasilkan, pada penelitian lain dikatakan bahwa seiring menurunnya kelembapan serta kadar C maka terjadi akumulasi Fe juga ketika terjadi reduksi pH substrat yang meningkatkan solubilitas logam termasuk kadar mikronutrisi logam. 
Tahun: 2013
DOI: 10.1186/1735-2746-10-17